under-construction

dEuniEm bergerak dan berjalan, dari jogoyudan ke terban, temui aku di bawah jembatan!

8 Mei 09

Menghadapi segala kejengkelan, menekuni kemarahan, akhirnya harus tertawa untuk hal-hal menyedihkan berikut rasa malu yang terus menggelantung di pundak. Hari-hari akan sangat panjang untuk sedikit ketabahan palsu yang kumiliki. Kamar akan tetap jadi sesuatu yang terus kucumbui, kuraba bagian-bagian berdebu. Untuk masuk pada selera yang berbeda, aku telah mencoba membuat origami di waktu-waktu aku ingin istirahat. Saat itulah, pikiran tentang lipatan dan melekuk adalah hal yang istimewa, paling berharga, dan sangat pribadi, tempat aku menyimpan rasa jengkel yang tidak bisa pergi.

Selamat pagi Mei yang merdu, langit tampan di sana, riak coklat air, suara batu-batu di dasar kali, juga tumpukan jiwa yang malas. Sudah selesai kulewati malam yang itu-itu lagi, sudah kutempuh mimpi dikejar-kejar sesuatu, dan aku semakin lelah sehabis tidur. Terimakasih kopi kental yang semakin meracuni, kau buat aku merasa sehat dan bisa berterimakasih. Terimakasih kesempatan karena kau berikan waktuku. Maafkan aku kesempatan, menganggapmu memiliki waktuku, atau mungkin aku meminjamkan waktuku padamu? Kepada waktu aku mesti berunjuk rasa penghargaan yang sangat besar atas pengharapan dan anggapan-anggapan yang menyertainya, yang membuatku bergulir seperti lingkaran detak tanpa harga.

Mei, … ada kemarahan yang membuat stabilo membentur dinding triplek dengan keras. Lelah juga ketika perut tidak terisi sampai jam segini. Bolak-balik ke kantor pos hanya untuk melihat pintunya yang tertutup dan besok tanggal merah… ya ampun, aku bahkan tidak punya uang untuk fotokopi KTP. Badan sudah penuh keringat naik turun undak-undakan di code, dan aku hanya dapat menghibur diri dengan melemparkan stabilo hanya untuk menunjukkan aku sudah begini lapar dan marah. Mungkin habis jumatan ini mau jalan ke kantor pos besar, yah, toh kita mesti punya tekad untuk terhindar dari hal-hal konyol seperti kelaparan akut.

Aku ingin lepas kontrol dan memarahi sesuatu, tapi mungkin sampai situ saja, toh aku masih bisa makan nasi putih dicampur garam seperti wendi. Ya sudah, toh ini hal biasa, aku hanya terlalu tergantung pada harapan untuk mendapatkan uang kiriman dari kakakku. Bertahan seperti di masa lalu, makan sangat terbatas dan tidak memadai, ternyata tidak bisa kulakukan hari ini. Mungkin aku terlalu dimanjakan oleh kemudahan sehingga begitu cepat marah saat kekosongan merasuki dompet.

Lihat, sebenarnya aku masih bisa tersenyum, meski sangat buruk. Padahal tadi sudah bersemangat sekali saat berangkat ke kantor pos, lalu pulang lagi untuk mencari foto kopi KTP, sampai naik tangga pun sambil lari-lari, dan kemudian melihat tulisan TUTUP/CLOSED aku tiba-tiba seperti jatuh, terasa sekali lelahnya saat kecewa begini. Huh… aku ingin melempar stabilo lagi!

Aku memiliki sesuatu untuk dibaca, sebuah perbandingan pada tanggal yang sama setahun lalu. Ini semata karena akhirnya, sore ini, aku mendapatkan uang untuk terus benapas dan bergembira. Hore! Aku merdeka lagi!

08 Mei 08

Pagi yang memeluk kepedihan, cahaya putih yang menipu di luar sana, dan seluruh kebisingan kota; semua itu mengisi daftar menuku. Selain harus mengingat peristiwa kemarin yang tidak kucatat, pagi ini aku beruntung mendapatkan hutang lagi dan bisa makan lagi. Hampir saja aku harus meminta-minta kepada tetangga untuk makan, atau pergi mencari barang curian yang bagus.

Kemarin aku ditawari hal-hal aneh, sesuatu yang asing bagi orang miskin jelata. Uang sekian dan sekian lalu aku kerjakan dan kerjakan pekerjaanku sendiri, sebelumnya tanpa konsekuensi tapi berikutnya aku memintanya sendiri dengan ragu dengan terlalu ragu. Tapi, apakah sebenarnya itu adalah sebuah hasil dari dunia manusia yang ada sekarang, bahwa kita berjalan dalam kebetulan-kebetulan? Dalam keadaan lapar aku makin jadi orang, maksudku sungguh manusiawi untuk mencuri dan berbuat jahat. Kebenaran total itu tolol dan menggelikan. Dan orang-orang memang tidak akan maklum, tapi aku selalu setuju bahwa apa yang kulakukan adalah suci, bahwa kehidupanku adalah kelakuan yang tidak sepenuhnya jujur dan benar. Inilah aku kalau kalian harus mengerti siapakah manusia yang sejati itu, manusia yang jelata dan tidak melulu berjalan dalam koridor yang benar. Aku harus mengatakan bahwa kit perlu berpikir dengan konyol dan benar atau tolol dan benar, atau kata lain kita semua perlu berbahasa yang tolol dan benar. Kita akan menghilangkan kosakata jujur dan baik sementara waktu agar kita kelihatan manusiawi. Dengan cara itu kita terus hidup. Dengan kebohongan kita semua tertolong untuk berpikir dan berimajinasi, dan kecerdasan bukanlah sesuatu yang lurus.

Moral, sebagian besar adalah perasaan benar dan sebagian yang lain adalah tipu daya. Kebetulan atau tidak, kita akan mengakui bahwa kehidupan setiap orang adalah campuran yang cukup sempurna dari seluruh sifat buruk dan beberapa sifat pengendali yang dengan lain kata itulah ramuannya untuk menjadi manusia, atau bukan, hah? Aku harus mengulang, kecerdasan bukanlah sesuatu yang bermoral, bukan sebuah kebaikan semata, bukan benar dan baik. Dan nalar, seperti yang kalian semua rasakan, adalah pemberontakan yang diaduk dengan logika.

Gabito, dan aku teringat, terngiang, seperti sebuah zona tanpa batas tempat sebuah keganjilan menjadi begitu layak. Kemiskinan, jelata, dunia yang tersaruk-saruk seperti pengemis tua dengan lonceng di lehernya dan berkhotbah tentang nama Tuhan yang Agung. Gabito, Gabito…. itu sesuatu yang menggugahku. Datang seperti hantu tanpa mata, tanpa rongga nafas, dan menjentikkan jari-jari tajam yang licin ke arah dada seorang anak yang ingin menangis, “Seharusnya Tuhan mengampuni orang-orang miskin yang mencuri!”

Mungkin ia terseok di siang bolong dengan kaki tanpa sandalnya, memegang rokok seperti memegang seluruh kebahagiaan hidup, tentu saja pada suatu masa lalu. Lihat apa yang dihasilkan seorang penyair seperti dia, sebuah Nobel untuk menambal genting yang bocor dan buku-buku yang laris bisakah kita gunakan untuk mempercepat kematian orang-orang miskin lainnya? Tidak.

Orang-orang tetaplah orang-orang sebagaiamana dianggap sebagaimana mestinya, mereka yang dianggap sampah dan kotoran di depan publik tentu saja harus disingkirkan, dan apakah ini cara berpikir yang salah? Tentu saja kota ini salah, kalau begitu. Tapi, kenyataan selalu bilang pada kita, hanya kadang kalian semua tuli, bahwa ketololan dan kedunguan adalah bahasa sehari-hari kita. Bahwa orang miskin memang tak banyak belajar, karena mereka bekerja 24 jam agar tubuh busuk mereka tidak mati di tepi kali. 24 jam itu hanya menghasilkan berapa? Hanya beberapa anak kurang gizi yang semakin bodoh, semakin tidak mengerti mengapa mereka bukan warga negara meski mereka di antara orang-orang yang dianggap warga negara.

Hah, cara berpikirku menjadi begini bukan? Tanpa harapan. Tanpa imaji masa depan. Nihil. Terlalu merendah dan skeptis, merapat ke pesimis. Mungkin fatal. Mungkin hanya sebuah metafora keindahan, sebuah dunia kelap-kelip yang lain. Aku ingin menyebut dengan caraku sendiri, dengan pretensi dan kesungguhan pribadi, yang artinya menempatkan diriku sebagai sosok amburadul yang berpikir dan merasa bisa berpikir. Ini adalah kenikmatan dari hidup yang compang-camping; mendefinisikan diri sendiri, menilai diri sendiri, mengonsep diri sendiri, memberi arti, membangun rumah olok-olok, dan semua itu adalah aku. Nyatalah bagiku, terpikirkan olehku, masuk dalam nalarku, merambati gairah sekujur hidupku.

Siang, lelah, mata panas, dan tidak semangat, ingin berak!

05 Mei 09

Bangun pagi-pagi, ngopi, nyekripsi!

Malam… malam bikin resah, gelisah, dan was-was. Duit tinggal 15 ribu, mau minta ke mana? Tuhan tidak punya atm yang bisa diakses orang miskin dalam beberapa menit. Pinjam kepada manusia lagi. Jadi, tuhan, jangan engkau memerintahkan macam-macam pada orang yang masih memiliki hutang. Kau pasti mengerti, kami tidak bisa mencerna logika keimanan buta. Kami menjalani kemiskinan kami tanpa menyalahkanmu, jadi juga jangan salahkan kami kalau kami miskin. Kami tidak mengerti hal-hal secara mendalam seperti para santri atau ahli-ahli agama, jadi logika kami ini memang hanya sampai pada tataran yang dapat kami terima sebagai masuk akal.

Ah, tuhan, aku mulai bicara kepadamu dengan tulisan-tulisan, meski jauh sebelum ini mungkin kau tahu apa yang aku pikirkan. Sebenarnya, sulit mempercayai bahwa kau itu ada, dengan logika orang awam bahwa kami tidak sekalipun pernah dengar engkau, tidak juga melihat engkau. Aku mungkin konyol, mungkin juga tidak mengerti, tapi aku mungkin masih mengakui engkau itu ada karena wacana.

Tuhan, aku tidak bisa menemukanmu di sini. Aku tidak bisa menangkap maksud orang bicara tentang tuhan. Aku percaya agama, sebagai sistem yang bagus, tapi tentang engkau aku masih selalu bertanya-tanya, belum kutemukan ujungnya. Yah, bahkan ketika aku shalat, ketika aku ngaji, ketika aku mempelajari agama… aku tidak menjumpai engkau. Ini membuatku gamang ketika aku sendiri menjadi seorang takmir, mengajarkan doa-doa pada anak-anak, mengajak mereka percaya bahwa islam adalah agama yang benar (pernahkah?). aku memang tidak pernah mengatakan bahwa engkau itu ada pada mereka, aku tidak menjelaskan dengan mengatakan bahwa aku yakin dan mereka harus meyakini, seolah mereka mengerti begitu saja. Aku mengajarkan cara-cara dan tidak mengerti dasarnya. Aku memberi harapan pada mereka bahwa engkau itu ada, mahakasih, maha pemberi, maha ini dan maha itu… tanpa aku bisa menjadi cukup sadar bahwa apa yang kukatakan adalah bukan yang aku percayai.

Tuhan, di kamarku segalanya tidak cocok untukmu, mungkin, toh aku tidak mengenalmu. Yah, aku hanya melakukan klaim… dua puluhan tahun. Kitab-kitab membuat kita percaya pada sesuatu seperti koran-koran memberitakan peristiwa. Dan, aku tertinggal hanya untuk berpikir bahwa mungkin tuhan itu hanya sebuah tipuan. Aku tidak membaca koran seperti juga aku tidak membaca kitab, aku hanya mengerjakan pikiranku, memenuhi halaman skripsi, lalu tiba-tiba muncul kata tuhan seperti sesuatu yang begitu berbeda. Atau, malah begitu biasa, begitu profan, begitu terlantar, tidak dipedulikan, kata itu bahkan mungkin sama seperti kata-kata lainnya; anjing, hutan, laut, peluru, kamar, hidup, nangis.

04 Mei 09

Apakah dunia sudah agak tenang?

Tidak di kepalaku yang berdenyut-denyut. Habis rapat-rapatan di kelurahan, isinya orang-orang tua melulu, leluconnya garing. Pusing sirahku. Sampai di kamar, sudah ada bapaknya kurcaci. Mau koding agak ngantuk dan gatal-gatal. Mungkin besok. Tapi besok mesti ke dosen juga.

Dunia agak berubah ya, atau selalu begitu, berubah terus?

Bulan tersaput kabut tipis, masuk lewat jendelaku. Kamarin malam aku menikmatinya dengan lebih baik. Keluar kamar, mengeluarkan dua bata hitam yang jadi tungkuku dan masak mie di bawah cahaya bulan, benar-benar serasa kemping… atau lebih enak. Jadi ingat cerita bobo dan coreng yang mau piknik dan kemping tapi tidak jadi lalu kemping di halaman rumah. Tapi ini lebih baik, ini kenyataan, kan? Menyiapkan kayu, air, wajan, dan mie. Menyalakan api, menyiapkan air… waktu mau dimasak, di dalam air sudah ada kotoran kelelawar yang jatuh dari atas. Yeah, lumayan, jadi sayur tambahan… ha ha ha. Untung masih ada tutup panci, sehingga bisa masak dengan selamat hingga akhir. Makan mie lagi! Mie lagi. Padahal aku bosen makan mie, darahku tidak cocok juga, tapi mengapa aku selalu beli mie dan beli lagi? Soalnya itu barang yang murah, seribu sekian ratus sudah bisa kenyang, ditambahi nasi tentu saja. Jadi ingat, waktu kecil, satu mie instan bisa untuk satu keluarga. Nikmat sekali rasanya, mienya jadi lauk, jadi sayur. Sekarang, mie satu dimakan sendiri rasanya benar-benar bikin negg. Tapi bagusnya, dengan negg nafsu makanku berkurang, jadi tidak terlalu menyengsarakan karena aku bisa berhemat.

Tadi sudah beli mie lagi, untuk cadangan kalau malam-malam begini lapar, dan itu sering sekali karena sore taadi tidak makan, merasa sudah kenyang dengan makan siang sih. Juga ganti mie-mie kemarin yang diambil para GPK. Takutnya, mie yang ini diambil oleh kurcci yang agak methaki. Soalnya dia ini agak saraf juga, mengambil barang orang tidak pernah minta ijin, ijinnhya kalau sudah pakai atau barangnya sudah habis. Inginnya menempeleng saja, tapi aku benar-benar belum pernah menempeleng orang, jadinya ya malah takut juga kalau mau menempeleng. Kalau sudah biasa mungkin tidak masalah. Mungkin kelak aku akan biasa… ha ha ha.

Sudahlah… aku akan jadi sedikit marah kalau ingat kurcaci menyebalkan yang sekarang ni kelihatan sifat buruknya, kemalasannya, bau jeleknya, memakai barang orang tanpa rasa bersalah…. lebih baik dia mencuri dan merasa takut ketahuan, daripada memakai seolah-olah orang lain selalu akan memberikannya. Bajingan tenan.

jurnal hari ini

Sebuah hari, dengan kepala migrein dan kepenatan menghantam sisi syahwat, aku menemukan titik-titik terang menuju ke arahku. Ah, sebenarnya bukan titik terang, tapi lebih tepat semangat yang baik saat aku membaca tulisan orang mengenai dirinya sendiri. Menemukan beberapa blog dan mencoba membaca tulisan manusia yang tidak mendaku sebagai penulis, ternyata itu membuat kondisiku membaik, aku seperti minum vitamin dan menemukan banyak hal. Yeah, mungkin aku juga bosan dengan bentuk-bentuk tulisan yang konvensional milik para penulis, peneliti, sastrawan (hueek cuh!), semua tulisan yang mereka sebut kebudayaan literer itu kadang begitu payah dan sok-sokan. Tapi, mungkin aku saja yang tidak bisa menulis sebaik mereka. Menarik… menarik.

Seharusnya kita bisa berkata, “Huah, anjing benar itu Taufik Ismail!”, bangsat tengik si Gunawan Muhammad dll… taik busuk itu taufikul,,, (kenapa namaku? Aku ini sepadan dengan mereka sebagai mahluk) kita hidup dalam kenyataan-kenyataan yang tumpang tindih dengan yang ilusi. Omong kosong ini mengakar dalam diriku, akarnya seperti penis, yang hanya tahan lima sampai sepuluh menit, lalu bosan dan mati.

Baik-baik… bahasa ini agak parah, keterlaluan… tapi ukurannya masih perlu diperdebatkan dong! Dikompromikanlah, soalnya kalau diperdebatkan bisa-bisa kita tidak dapat lebih daripada pandangan-pandangan saja, bukan ketentuan. Postulat! Entut! Baik, siapa yang menganggap bahasaku parah? Tidak! Bahasa itu indah, ya kan? Cara penilaianmu saja yang kabur, memihak, sekaligus tradisionil.

Em, aku memang tidak indah, tulisanku juga. Kata-kataku kotor dan busuk…. tidak bertatakrma. Aku membenci sekaligus mencintai…. aku memaki-maki sekaligus mengagumi. Dunia ini besar sekali…. mata dan pikiranmu saja yang ukurannya kekecilan.

Aku lama sekali tidak membca puisi, tidak menulis puisi, tidak menulis cerpen… tidak melakukan hal-hal baik. Aku tidak shalat, aku ********…, aku mencuri ikan (sebenarnya, sedang menjalani peran sebagai kucing), mencuri itu baik untuk mengukur keberanian orang-orang miskin sekaligus memberi senjata untuk menaklukkan sisi moral yang merong-rong dunia. Kadang aku juga jengkel dan marah, lalu loyo dan terserang penyakit kelelahan akut. Aku melakukan hal-hal buruk, tapi aku memikirkan hal indah dan baik… aku menilai diriku sendiri, aku mencari sumber semangat dan cahayaku. Aku masuk ke kedalaman yang gelap dan meraba-raba jalan keluar dan jalan masuk. aku tidak menangis lagi, sudah begitu lama aku tidak menangis…. sepertinya aku menjadi sangat kejam. Aku memilih menyakiti orang-orang tertentu daripada tidak merasa nyaman dengan kehadiran mereka. Aku berniat tidak akan membantu orang-orang tertentu, orang-orang miskin yang busuk dan membusuk. Aku berjanji, demi sebuah skripsi (kadang lebih dari hal itu) untuk tidak membeli koran yang dijual orang-orang miskin, aku berjanji tidak mau mengurusi mereka yang membutuhkan bantuan, biarkan mereka mati dengan sendirinya. Aku tidak berkhianat, kan? Toh, jutaan manusia di luar sana juga tidak membantu orang-orang miskin itu dan mereka tidak bersalah. Bahkan mereka yang lebih mampu, yang punya uang untuk makan tiga sampai lima kali sehari, mereka tidak salah, kan? Jadi aku juga tidak salah. Aku lebih kere, banyak hutang, kurus kering dan kekurangan nafsu… maksudku kurang gizi, jadi aku lebih berhak dong untuk tidak peduli pada orang-orang di sekitarku ini (parahnya, mereka itu mengelilingiku, seolah aku ini contoh yang baik untuk dimakan!)

Demi skripsi, aku tidak mau ngajar TPA, biar TPA mati… males mengurusi perpus, bimbel, dan tetek bengek ngajari anak-anak itu bagaimana membuat origami. Biar anak-anak itu lupa hapalan yang kemarin. Biarkan aku mengerjakan skripsi dengan tenang dan tanpa migrein. Oke, kawan-kawan orang miskin…. kita semua enggan berada di tempat kita sekarang, tapi tataplah dunia dengan matamu sendiri! Aku yakin, terlalu sedikit orang miskin yang mengerti… mereka akan mati lebih cepat, jadi kita nggak usah terlalu khawatir.
Huah… sekarang tengkuku yang sakit, luar biasa! Kopi ini pasti akan membunuhku… maag kumat dan aku menahan diri untuk tidak cepat-cepat makan. Sialan… dosisku sendiri semakin parah, tiga gelas kopi hitam pekat sehari. Hm, sebenarnya itu sudah kukurangi dalam dua tahun belakangan, setelah dua tahun lalu aku merasakan maag yang menyakitkan di tengah malam yang miskin… ketika tidak bisa makan karena kehabisan uang, malah aku minum kopi. Ya.. ya ya… kepalaku pening sekali, dari samping ke depan…. aku perlu lagu!!! Oasis! Yang kenceng!!! Besok kalau mati, lagu pengiringnya Champagne Supernova. Oke ra dab? Aku bahagia… rasa sakit ini agak menyenangkan… luar biasa. Seharusnya orang-orang bisa menikmati sakit… mereka terlalu bodoh, kan, untuk menikmati sakit?

hal yang sama kutulis di blogger.

d

“Tahun-tahun yang berubah, mengusir masa lalu ke dalam kantong kenangan, menggeletakkan cobaan ke dalam luka, dan sekarang kita menemukan kotoran itu menjadi pakaian kekinian.” wajahnya basah keringat, cuping telinganya bergerak-gerak menangkap angin, dan matanya terdiam di kedalaman yang buta.

“Kalau aku sanggup menjalanai kemarin, maka hari ini hanyalah masalah waktu. Kalau langkahku tertatih, maka lariku hanyalah tentang sedikit perubahan ritme hidup. Apakah engkau memahami dirimu sendiri saat semua orang menuntutmu untuk memahami mereka?” Ada terlalu banyak pertanyaan untuk kenyataan buta yang dihadapinya, yang hanya terlihat seperti satu warna tunggal, warna yang bertarung dengan cahaya dan kegelapan.

“Di tahun yang akhir, yang aku jalani, waktu tidaklah sepenting yang kupikirkan. Kita terlalu teratur, terlalu monoton, terlalu bulat, dan berputar-putar seperti jarum jam… toh hanya angka satu sampai dua belas saja yang kita temukan di sana.”

Apa mataku kamu butakan

Heh… aku tidak pernah ingin membaca lagi beberapa hal. Teman, sahabat, jangan pedulikan aku; titik-titik yang akan redup. Ini semua tidak hebat, ini hanya tulisan-tulisan kotor dari kubangan hidupku.

Nadya, apa sih yang kau katakan pada orang lain tentag ini semua….? Aku seharusnya menangis di kedalamn jiwaku tanpa dipedulikan orang lain, aku hanya perlu menjaga kesendirianku, mati kaku seperti pemabuk miskin; dan …. jangan melihat hal-hal buruk ini jika kau orang-orang baik yang masih ingin punya jalan lurus, ingin menggunakan EYD, ingin patuh pada bangsa dan negara, ingin mengaku sebagai orang indonesia … he he he (aku hanya menghibur diriku, sorry)…

lama sekali tidak nulis di sini, ruang yang tidak jelas… kita masing2 tidak perlu punya komitmen terhadap yang kita baca, kan? dulu aku takut tulisan2 ini dipakai orang, tapi itu hanya omong kosong. senjata manusia hanyalah omong kosong!

bye …

mungkin aku ingin sembunyi, tuhan kasih aku pembokat yang sepertiMu

Sakitku

lelah …. sekali … hidup ini.

Puisi Tropis

Berpuisi
dalam iklim ini kadang tidak cocok bagiku

Keindahankeindahan
selalu cepat berganti musim

Tanah juga
kurang subur bagi katakata

Toh
menyepelekan alam seperti membuang pikiran

Dan katakata
bisa tidak pernah menemukan musimnya

 

Kadang kala
cuaca yang jujur masih toleran

Pada beberapa
imaji senyuman pejalan kaki

Yang turun
ketika basah mulai menggoda

Dan angin
menerbangkan bagianbagian yang kita kira tidak berbobot

Seperti batas
kota dan koma yang saling jaga jarak

 

Konteks
ilmiah menuntut warnawarna ditata

Pada langit
yang berpola seenaknya

Sehingga
sering aku lupa dengan mana kata cocok pada akarnya

Karena
daundaun memerlukan kontribusi tanah luka

Agar ratapan
cocok dengan kehadiran panas matahati

 

Kemarin saja,
angin membawa celana berhias bunga masa lalu

Ke atas,
terus ke atas angin yang tidak tepat dipasangkan

Dengan celana
bergambar bunga yang lusuh

Yang pernah
kugunakan belajar menyulam keharuman

 

Di sisi sana,
air kali lekas berganti tema,

Sehingga
puisi batubatu telah tenggelam

Dengan sikap
tidak konsisten banjir retorika, perumpamaan

Di likunya
yang sepanjang abjad,

Juga
tahitahinya yang melambangkan huruf miskin tempat pribadi

Jambangan jeda
untuk mengendurkan porsi makan masalah kita

Menggoda kaki
dengan lumut di sejumlah kekakuan pola

 

Kalau saja
puisi bisa kupelihara hanya dengan nafas

Pada musim
orangorang ngantri, kehidupan pasti tak perlu warna

Kalau puisi
semudah kubuat alasan hanya ketika masalah datang

Pada
kemelaratan yang sederhana, musim tak perlu datang berkalikali

Makanya,
kadang kekacauan di langit lebih menggembirakan

Daripada rupa
perut lapar yang memanjangkan kosakata

Jogja,5maret07

 

[….]

Bersama malam, kucatat katakata. Hanya saja aku tidak yakin
apakah ia puisi atau kepengecutan semata.

Dulu, selalu saja beruurusan dengan ingatan, sudah kita
putuskan siapa yang berhenti menulis, hanya saja itu selalu berlaku sebaliknya.
Kita hanya perlu lambung yang berbeda untuk merasakan rasa asam itu.

 

Tubuh yang sakit ini, jika aku sanggup memberinya wewenang
untuk diam, akan kukurung ia dalam waktu sekedar mendengarkan kehalusan alam.

demi……………. bangsat

Demi matahari dan keindahannya yang cemerlang. Demi bulan bila mengikutinya. Demi siang bila memancarkan keagungan matahari. Demi malam bila menyembunyikannya. Demi langit dan pembinaannya yang menakjubkan. Demi bumi dan permukaannya yang luas. Demi jiwa dan perimbangan yang sempurna. Maka Ia menunjukkan kepadanya segala kejahatannya dan kebaikannya. Sungguh berhasillah dia yang telah membersihkannya. Dan rugilah yang telah merusaknya! (QS 91: 1-10)

Demi cahaya pagi yang gemilang. Dan demi malam bila sedang hening. Tuhanmu tidak meninggalkan kau dan tidak membencimu. Dan sungguh, yang kemudian akan lebih baik bagimu daripada yang sekarang. Dan Tuhanmu kelak memberimu apa yang menyenangkanmu. (QS 93: 1-5)

Di antara para pemabuk aku membaca ayat-ayat yang panjang dan melelahkan mata. Di antara bau sangau menyengat dan pénguk selimut mereka, ayat-ayat menjelma garis-garis merah. Dan seperti sebuah kemunafikan aku memasuki gua sunyi pengeditan Indeks Juz Amma, Bimbingan Nabi Terhadap 100 Masalah, dan Keutamaan dan Tafsir Ayat Kursi. Aih, lalu kebencian menyusul dalam makian-makian di relung kesunyianku. Masihkah manusia yang laki-laki ini mau menyembunyikan dustanya lagi?

Aku duduk di sudut itu, menunggumu lewat dan mengatakan bahwa “aku sedang menunggumu lewat” ketika kau bertanya aku sedang apa. Kalimat bodoh macam ini, dalam angan-anganku, seperti lentera kecil yang membuatku terbayang-bayang pada sesuatu yang menyerupai kerinduan, bertahun-tahun lalu. Yang lalu, yang membuat manusia melankolis dan menikmati kesenduannya.