8 Mei 09
Menghadapi segala kejengkelan, menekuni kemarahan, akhirnya harus tertawa untuk hal-hal menyedihkan berikut rasa malu yang terus menggelantung di pundak. Hari-hari akan sangat panjang untuk sedikit ketabahan palsu yang kumiliki. Kamar akan tetap jadi sesuatu yang terus kucumbui, kuraba bagian-bagian berdebu. Untuk masuk pada selera yang berbeda, aku telah mencoba membuat origami di waktu-waktu aku ingin istirahat. Saat itulah, pikiran tentang lipatan dan melekuk adalah hal yang istimewa, paling berharga, dan sangat pribadi, tempat aku menyimpan rasa jengkel yang tidak bisa pergi.
Selamat pagi Mei yang merdu, langit tampan di sana, riak coklat air, suara batu-batu di dasar kali, juga tumpukan jiwa yang malas. Sudah selesai kulewati malam yang itu-itu lagi, sudah kutempuh mimpi dikejar-kejar sesuatu, dan aku semakin lelah sehabis tidur. Terimakasih kopi kental yang semakin meracuni, kau buat aku merasa sehat dan bisa berterimakasih. Terimakasih kesempatan karena kau berikan waktuku. Maafkan aku kesempatan, menganggapmu memiliki waktuku, atau mungkin aku meminjamkan waktuku padamu? Kepada waktu aku mesti berunjuk rasa penghargaan yang sangat besar atas pengharapan dan anggapan-anggapan yang menyertainya, yang membuatku bergulir seperti lingkaran detak tanpa harga.
Mei, … ada kemarahan yang membuat stabilo membentur dinding triplek dengan keras. Lelah juga ketika perut tidak terisi sampai jam segini. Bolak-balik ke kantor pos hanya untuk melihat pintunya yang tertutup dan besok tanggal merah… ya ampun, aku bahkan tidak punya uang untuk fotokopi KTP. Badan sudah penuh keringat naik turun undak-undakan di code, dan aku hanya dapat menghibur diri dengan melemparkan stabilo hanya untuk menunjukkan aku sudah begini lapar dan marah. Mungkin habis jumatan ini mau jalan ke kantor pos besar, yah, toh kita mesti punya tekad untuk terhindar dari hal-hal konyol seperti kelaparan akut.
Aku ingin lepas kontrol dan memarahi sesuatu, tapi mungkin sampai situ saja, toh aku masih bisa makan nasi putih dicampur garam seperti wendi. Ya sudah, toh ini hal biasa, aku hanya terlalu tergantung pada harapan untuk mendapatkan uang kiriman dari kakakku. Bertahan seperti di masa lalu, makan sangat terbatas dan tidak memadai, ternyata tidak bisa kulakukan hari ini. Mungkin aku terlalu dimanjakan oleh kemudahan sehingga begitu cepat marah saat kekosongan merasuki dompet.
Lihat, sebenarnya aku masih bisa tersenyum, meski sangat buruk. Padahal tadi sudah bersemangat sekali saat berangkat ke kantor pos, lalu pulang lagi untuk mencari foto kopi KTP, sampai naik tangga pun sambil lari-lari, dan kemudian melihat tulisan TUTUP/CLOSED aku tiba-tiba seperti jatuh, terasa sekali lelahnya saat kecewa begini. Huh… aku ingin melempar stabilo lagi!
Aku memiliki sesuatu untuk dibaca, sebuah perbandingan pada tanggal yang sama setahun lalu. Ini semata karena akhirnya, sore ini, aku mendapatkan uang untuk terus benapas dan bergembira. Hore! Aku merdeka lagi!